Tergerus pasar online, toys r us terancam bangkrut

Tergerus pasar online, toys r us terancam bangkrut. Teknologi digital telah memicu perubahan perilaku konsumen yang “mengerikan”. Kenapa mengerikan? karena banyak pelaku usaha yang sudah besar collapse kalah bersaing dengan perubahan perilaku konsumen ini. Sebelumnya kita mendengar perusahaan media Al Jazeera yang terpaksa mengurangi karyawannya dan fokus ke konten digital.

Penyebab stasiun TV berita arab mengurangi pegawainya memang bukan semata karena online tapi keinginan Al Jazeera untuk fokus ke konten digital. Hal ini merupakan upaya media ini menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Lalu ada juga media mainstream yang tak lagi terbit dalam bentuk cetak dan bertransformasi secara ‘kaffah’ ke dalam bentuk digital. Kini, teknologi digital pelan-pelan melumat pasar fisik.

Yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah toko mainan anak-anak dari Amerika Serikat. Toys r us. Perusahaan mainan yang memiliki cabang di banyak negara ini mulai merasakan hebatnya dampak dari perubahan perilaku konsumen sebagai akibat semakin berkembangnya teknologi digital. Di Amerika dan Kanada bahkan mereka sampai meminta perlindungan pemerintah setempat untuk membantu upaya restrukturisasi utang.

 

 

Seperti dikutip detikFinance, Toys ‘R’ Us pernah survive melawan pesaing yang lebih kuat sebelumnya dan menjadi pemain dominan di pasar mainan AS. Namun kini perusahaan mainan itu sangat merasakan hebatnya persaingan menghadapi pasar dunia maya.

GlobalData Retail memperkirakan pada 2016 sekitar 13,7% dari semua penjualan mainan dilakukan secara online, naik dari 6,5% lima tahun yang lalu.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Perubahan perilaku konsumen sedang terjadi di dunia, tak terkecuali Indonesia. Konsumen Indonesia pun mulai beralih dari belanja di toko fisik ke belanja melalui online.

Seperti dikutip dari liputan6.com ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa barat, Jodi Janitra menyatakan banyak pelaku usaka mikro kecil (UMK) yang mengeluh turunnya penjualan Lebaran kemarin. Jodi menyatakan turunnya penjualan yang terjadi bukan karena daya beli masyarakat yang turun tapi karena sebagian konsumen yang mulai beralih ke online.

Pelaku usaha Indonesia mulai bersiap bersaing di pasar online

 

 

Berdasarkan data Lembaga Riset Telematika, Sharing Vision, 36 persen usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia masih offline. Sementara itu, 37 persen UKM hanya memiliki kemampuan online yang sangat mendasar (basic) dan 18 persen memiliki kemampuan online menengah.

Sharing vision memprediksi tahun  2025 potensi pasar e-Commerce di Indonesia akan mencapai 46 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Dari laporan Bloomberg menyatakan tahun 2020 lebih dari separuh penduduk Indonesia akan terlibat dalam kegiatan e-Commerce. Riset lain dari McKinsey dalam laporan bertajuk ‘Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity’ menyebutkan, peralihan ke ranah digital akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 150 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2025.

Wah siap-siap ya yang punya usaha. Harus segera memikirkan usahanya untuk di online-kan supaya bisa bersaing.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *